Situasi pasar kakao dunia sudah lebih dari 1 tahun ini harganya di atas USD 3.000/t. Bursa harga kakao di New York terminal selalu ditahan di level tersebut oleh fund manager dan harga cenderung naik sampai beberapa tahun ke depan, walaupun dalam keadaan krisis yang lalu.
Luas lahan kakao 1,2 juta hektar dan produksi 600.000 mt di tahun 2009. Harga dunia yang tinggi sangat menguntungkan petani Indonesia sebelumnya, tapi perkembangan tiga bulan terakhir penerimaan petani Indonesia dalam keadaan terancam dan diberi potongan yang besar dikarenakan : 1). Banyak pembeli (grinder, trading house) tidak melakukan pembelian, industri sudah kebanyakan stock dan contract jangka panjang;
2). Harga di tingkat petani didiscount USD 500 oleh pembeli, sebelumnya hanya didiscount USD 250 (pertama dalam sejarah perkakaoan Indonesia); 3). Mutu terus menurun, bean count di atas 130/100 gr yang sebelumnya hanya 115/100 gr. Akibatnya, harga petani dipenalty lagi 4%; 4). Produktivitas masih rendah yaitu 500 kg/ha/tahun; 5). Waste/kotoran meningkat di atas 10% (sebelumnya 4%) yang mengakibatkan harga yang diterima petani didiskon lagi 7%.
Dari keadaan mutu yang ada saat ini, penerimaan petani dipotong kurang lebih 11%. Ditambah discount harga yang mencapai USD 500, total penalty yang diterima petani adalah 27% dari harga bursa di New York.
Di sisi lain, keadaan pedagang lokal dan eksportir nasional kondisinya semakin sulit dan cenderung rugi dikarenakan : 1. Modal kerja sangat terbatas, sulit mendapatkan tambahan kredit; 2. Harga kakao naik tiga kali lipat; 3. Bunga Bank di atas 14%; 4. Margin keuntungan semakin tipis; 5. Biaya produksi naik; 6. Semakin terdesak dengan keberadaan internasional trading dengan modal yang kuat, bunga bank rendah serta membuka jaringan pembelian sampai ke sentra-sentra produksi mulai dari Aceh sampai ke Papua; 7. Sebagian industri pengolahan kakao tidak mau membeli ke pedagang lokal karena sudah membuat kontrak jangka panjang dengan internasional trading.
Dengan kondisi di atas ekspor kakao dikuasai lebih dari 80% pedagang asing (international trader). Dan semakin parah lagi pemerintah tidak bisa memberikan kebijakan yang mendukung eksportir nasional untuk bisa bersaing, akibatnya perdagangan lokal dan ekspor akan dikuasai sepenuhnya oleh mereka.
Bagaimana dengan Industri Pengolahan Kakao (Grinder) Nasional?
Industri kakao adalah industri yang sangat spekulatif di mana bahan baku dan harga produk olahannya ditentukan oleh harga di bursa dan demand oleh buyer yang sebagian besar ada di Eropa dan di Amerika. Produknya (cocoa butter, cocoa cake, cocoa powder) 80% diekspor ke Eropa dan Amerika.
Dari 13 grinder yang ada di Indonesia saat ini dengan kapasitas terpasang 265.000 mt mempunyai permasalahan yang berbeda-beda, di antaranya: 1. Grinder yang dalam keadaan baik ada 4 buah (3 buah perusahaan asing, 1 buah perusahaan nasional), jaringan pemasaran dan modal kuat, produk bervariasi (butter, powder, makanan coklat); 2. Grinder yang masih bisa dikembangkan ada 6 buah, kurang modal dan produk tidak variatif; 3. Grinder yang sulit untuk dikembangkan ada 3 buah, kapasitas terpasang kecil, kurang modal, mesin tua, produk tidak variatif.
(Untuk informasi lebih lengkapnya silahkan berlangganan Tabloid SINAR TANI. SMS ke : 081584414991)